Senin, 23 April 2012

Kumpulan Tausiyah Singkat



  • Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar (QS.AlAnkabut(29) ; 45)
  • “Bacalah oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia (Al-Qur`an) akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.” [HR. Muslim 804]
  • “Akan didatangkan Al-Qur`an pada Hari Kiamat kelak dan orang yang rajin membacanya dan senantiasa rajin beramal dengannya, yang paling depan adalah surat Al-Baqarah dan surat Ali ‘Imran, keduanya akan membela orang-orang yang rajin membacanya.” [HR. Muslim 805]
  • “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkannya.” [Al-Bukhari 5027]
  • “Yang membaca Al-Qur`an dan dia mahir membacanya, dia bersama para malaikat yang mulia. Sedangkan yang membaca Al-Qur`an namun dia tidak tepat dalam membacanya dan mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.” [Al-Bukhari 4937, Muslim 244]
  • “Perumpaan seorang mu`min yang rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Al-Atrujah : aromanya wangi dan rasanya enak. Perumpamaan seorang mu`min yang tidak membaca Al-Qur`an adalah seperti buah tamr (kurma) : tidak ada aromanya namun rasanya manis. Perumpamaan seorang munafiq namun ia rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Raihanah : aromanya wangi namun rasanya pahit. Sedangkan perumpaan seorang munafiq yang tidak rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Hanzhalah : tidak memiliki aroma dan rasanya pun pahit.” [Al-Bukhari 5427, Muslim 797]
  • “Sesungguhnya Allah Swt dengan Al-Qur`an ini mengangkat suatu kaum, dan menghinakan kaum yang lainnya.” [HR. Muslim 269]
  • "Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf. " (HR. At-Tirmidzi)
  • "Orang yang membaca Al-Qur'an dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala. " (Hadits Muttafaq 'Alaih).
  • “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).” (QS. Al AhQaaf 46:15)
  • “Manusia itu mengikut agama kawannya. Maka hendaklah diperhatikan siapa yang hendak dijadikan sebagai kawannya.” (HR Tirmidzi)
  • Orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (al-Baqarah: 277)
  • Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang paling aku benci dan yang paling jauh majelisnya dari aku pada hari kiamat adalah orang yang banyak omong, yang membuat dan bicara seenaknya, serta yang menyombongkan diri (angkuh).” (HR Ahmad, Ibnu Hibban, Abu Nuaim)
  • Apa yang diperintahkan Rasul kepadamu maka laksanakanlah. Dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah. (Q.S. Al-Hasyr : 7)
  • “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Al Mu’min: 60)
  • “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrahim : 7)”
  • “Hai orang-orang yang beriman bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negerimu) dan bertawakalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS Al Imran 200)
  • “Bencana seorang hamba adalah jika ia telah merasa puas dengan pengetahuannya, serta puas dengan kebaikan yang dapat ia lakukan.” (Abu AMr Ismail bin Najid rahimahullah)
  • “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
  • " Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir tumbuh seratus biji. Dan Allah melipat gandakan bagi siapa saja yang Dia kehendaki . . . " (QS. Al Baqarah 261)
  • Selemah-lemah manusia ialah orang yg tak bisa mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yg mensia-siakan sahabat yg telah dicari (Ali Bin Abi Thalib)
  • Orang yang terlalu memikirkan akibat dari sesuatu keputusan atau tindakan, sampai kapanpun dia tidak akan menjadi orang yang berani. (Ali Bin Abi Thalib)
  • Orang-orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal, kepercayaan, cinta, dan rasa hormat.
  • (Ali Bin Abi Thalib)
  • Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak. (Ali Bin Abi Thalib)
  • Perkataan sahabat yg jujur lebih besar harganya daripada harta benda yg diwarisi dari nenek moyang. (Ali Bin Abi Thalib)
  • Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dikeluarkan tapi ilmu bertambah bila dikeluarkan. (Ali Bin Abi Thalib)
  • Tukang mengadu domba dan tukang bohong dalam waktu sesaat bisa merusak masyarakat, padahal bila tukang sihir yang melakukannya ia akan butuh satu tahun.
  • “Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az Zumar: 9)
  • “Dunia ini terlaknat, dan terlaknat pula semua yang ada di dalamnya, kecuali mengingat Allah dan siapa saja yang menolong-Nya, orang yang memiliki pengetahuan, dan penuntut ilmu.” (HR. Tirmidzi)
  • Membaca itu adalah kunci dari segala ilmu. Tapi membaca hanya akan memberi makna dan kebaikan dalam kehidupan manusia jika ia dilakukan sesuai dengan petunjuk Allah: Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.
  • ” Pahlawan sejati adalah orang yang dapat memanfaatkan setiap momentum kepahlawanan “(Anis Matta)
  • ” Barang siapa yang tidak menyibukan diri dalam kebaikan niscaya ia akan disibukan dalam keburukan “
  • Kreatifitas, kegigihan dan keuletan dalam melakukan percepatan diri adalah kunci sukses karya besar orang-orang biasa dalam meluarbiasakan dirinya ” (Solikhin Abu Izzudin, ZERO to HERO)
  • ” Para pemenang berfikir tentang apa yang dapat mereka lakukan, orang yang gagal berfikir terus tentang apa yang tidak dapat mereka dan seharusnya mereka lakukan ”(Trutsco, p.81)
  • Barang siapa memelihara ketaatan kepada Allah dimasa muda dan masa kuatnya, maka Allah akan memelihara kekuatannya disaat tua dan saat kekuatannya melemah. Ia akan tetap diberikan kekuatan pendengaran, penglihatan, kemampuan berfikir dan kekuatan akal ”(Ibnu Rajab)
  • Barang siapa mengenal dirinya maka sungguh dia akan mengenal Tuhannya ” (Ali bin Abi Thalib)
  • Kenyataan hari ini adalam mimpi hari kemarin, dan mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari (Hasan Al Banna)
  • Manusia dinilai berdasarkan perbuatan mereka. Kebesaran jiwa mereka yang menentukan karya besar mereka memang besar. Di mata orang-orang kerdil, masalah-masalah sepele menjadi besar, bagi yang berjiwa besar masalah-masalah besar terlihat kecil
  • Orang yang melewati satu hari dalam hidupnya tanpa ada satu hak yang ia tunaikan atau suatu fardhu yang ia lakukan atau kemuliaan yang ia wariskan atau kebaikan yang ia tanamkan atau ilmu yang ia dapatkan, maka ia telah durhaka pada harinya dan menganiaya terhadap dirinya (Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Al Waktu fi Hayatil Muslim, hal. 13)
  • Berapa banyak amal yang remeh menjadi besar gara-gara niat, dan berapa banyak amal yang besar menjadi remeh gara-gara niat. (Abdullah bin Mubarak)
  • Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki sesuatu, tetapi kita akan terlambat jika kita merasa terlambat untuk memperbaiki sesuatu itu.
  • ” Tahun ibarat pohon, bulan-bulan laksana cabangnya, hari-hari sebagai rantingnya, jam-jam sebagai daunnya dan nafas kita sebagai buahnya. Barang siapa yang nafasnya selalu dalam ketaatan, maka orang itu telah menanam pohon yang baik.” (Ibnul Qayyim, Al Fawaid, hal. 164)
  • ” Hari-hari adalah lembaran baru untuk goresan amal perbuatan, jadikanlah hari-harimu sarat dengan amalan yang terbaik, kesempatan itu akan segera lenyap secepat perjalanan awan, dan menunda-nunda pekerjaan adalah tanda orang yang merugi, dan barang siapa bersampan kemalasan, ia akan tenggelam bersamanya.” (Ibnul Jauzy, Al Muhdisy, hlm. 382)
  • ” Misi yang ideal adalah misi yang terkait bagaimana kelak kita akan bertemu dengan Allah swt. Itulah tujuan hidup yang sesungguhnya ” (Anis Matta)
  • ” Kemauan adalah tenaga jiwa. Karena merupakan tenaga jiwa, kemauan tidak dapat berdiri sendiri. Tenaga jiwa akan kuat apabila selalu dipupuk dengan baik seperti halnya tenaga fisik kita. Tenaga fisik kita akan kuat jika dipelihara dan dibangun dengan baik ” (Anis Matta)
  • ” Akar yang paling dalam dari kepribadian seseorang ada pada pikirannya. pikiran itu seperti tanah. Bibit yang anda tanam didalamnya adalah motivasi dan yang tumbuh dari bibit tersebut adalah perilaku. Anda tidak dapat menanam sembarang bibit pada sembarang tanah. Anda harus mengapeling terlebih dahulu tanahnya dan mengetahui tanaman apa yang cocok untuk pikiran seperti itu ”(Anis Matta)
  • ” Ilmu itu seperti bangunan, jika pondasi yang anda bangun hanya cocok untuk membangun bangunan dua lantai, Anda tidak dapat membangun menjadi tiga lantai ” (Anis Matta)
  • “ Agar semangat, mulailah hari anda dengan doa dan keceriaan”
  • “ Orang yang paling gila sesungguhnya adalah orang yang paling meremehkan Tuhannya”
  • Kekurangan dan kelebihan seseorang akan tampak jika kita terus-menerus menginstropeksi diri. (Imam Ibnu al-Jauzy)
  • Janganlah berputus asa karena ia bukan akhlak kaum muslimin. Hakikat hari ini adalah impian hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan hari esok. Kesempatan masih luas dan unsur-unsur kebaikan masih kuat dan besar dalam jiwa kalian yang mukmin, meskipun tertutupi oleh berbagai fenomena kerusakan. Yang lemah tidak selamanya lemah, dan yang kuat tidak selamanya menjadi kuat. (Imam Hasan al-Banna)
  • “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa melihat apa yang ia lakukan untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian lakukan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
  • Andaikata jiwa terus sadar dan waspada, maka ia akan terus melakukan yang terbaik. Jika tidak, maka ia akan terjebak pada perasaan bangga, ketakaburan, dan sikap meremehkan orang-orang lain. Akhirnya, ia akan berkata, “Aku telah memiliki segalanya, aku berhak untuk berbuat apa saja!” Orang seperti itu akan membiarkan hawa nafsunya terjun ke dalam dosa-dosanya. Padahal, kalau saja ia berdiri di pantai kerendahan hati dan jiwa pengabdian pada Allah, akan selamatlah ia. (Imam Ibnu al-Jauzy).
  • Kendala pertama yang dihadapi oleh orang yang menuju Allah adalah kendala ilmu (Imam al-Ghazali)
  • Keberanian yang terpuji adalah didasari ilmu dan perhitungan, bukan nekat dan ngawur. Karena itu, orang yang kuat dan perkasa adalah orang yang mampu mengendalikan diri ketika marah hingga dapat melakukan yang mengandung kemaslahatan dan meninggalkan yang tidak mengandung maslahat. Sedangkan orang yang emosional bukanlah pemberani dan juga bukan orang kuat. (Imam Ibnu Taimiyah)
  • Jika seseorang datang ke sebuah majelis, hendaknya ia hadir bukan karena lapar, tetapi atas niat dan motivasi yang baik dan harus melupakan niatan-niatan duniawi. Saat itulah hatinya dapat menerima nasehat-nasehat, sehingga ia sadar atas apa yang pernah diperbuatnya dan tertarik untuk melakukan apa yang diketahuinya baik. Ia akan bangkit di atas perahu makrifat-nya. Saat itulah hati mulai sadar atas perbuatan-perbuatan buruk yang pernah dilakukannya, sehingga ia menyesal dan keingintahuannya semakin bertambah besar. (Imam Ibnu al-Jauzy)
  • Kebohongan berawal dari jiwa, lalu merembet pada lisan dan merusak perkataan. Kemudian merembet pada anggota badan dan merusak segala perbuatan. Dan akhirnya kebohongan itu menyelimuti perkataan, perbuatan, dan segala keadaan. (Imam Ibnul Qayyim)
  • Akibat Cinta DuniaSesungguhnya dunia ini hanyalah untuk dilalui dan bukan untuk diramaikan. Hal itu tentunya telah Anda ketahui dan pahami. Apa yang dicapai oleh orang-orang yang sangat cinta dunia hanyalah akan menyakitkan badan dan merusak agamanya. Jika Anda tahu akan hal itu, kemudian Anda meratapi hilangnya sesuatu yang tidak sepatutnya Anda miliki, maka kesedihan itu akan menyiksa Anda, karena kelak Anda akan mengetahui maslahat di balik kehilangan itu. Bersabarlah menerima kesedihan itu sebagai balasan kini, agar Anda selamat dari siksa yang datang kemudian. (Imam Ibnu al-Jauzy)
  • Sesungguhnya, apa yang disebut berjuang melawan hawa nafsu adalah laksana berjuangnya orang sakit yang cerdik. Ia bersabar untuk meminum obat meskipun enggan, karena berharap dirinya sehat. Ia mau berpahit-pahit dan memakan makanan yang sesuai dengan anjuran dokter dan tidak menuruti hawa nafsunya untuk mengkonsumsi apapun yang akan membuatnya menyesal, karena akan tidak diperbolehkan makan selamanya. (Imam Ibnu al-Jauzy)
  • Berinteraksi dengan al-QuranKenikmatan hidup di bawah naungan al-Quran tak bisa dirasakan kecuali oleh orang yang langsung menjalaninya. (asy-Syahid Sayyid Quthb)
  • Betapa banyak manusia yang menyembunyikan apa yang tidak Allah ridhai, lalu Dia membongkarnya setelah beberapa lama. Barangkali mereka terperangkap dalam sebuah bencana yang membuat apa yang tersembunyi selama ini menjadi tersingkap di mata manusia. Semua yang terjadi seolah menjadi jawaban terhadap semua dosa yang selama ini pernah mereka lakukan. Manusia harus sadar bahwa ada Zat Yang Maha Membalas perbuatan dosa. Manusia pun harus sadar bahwa tiada berguna dinding yang ia jadikan benteng untuk bersembunyi. Ia pun harus tahu bahwa amal-amalnya tak akan sirna begitu saja laksana debu yang ditiup angin. (Imam Ibnu al-Jauzy)
  • Hal-hal yang haram memang tampak begitu manis. Akan tetapi, di balik itu semua ada celaka yang berujung pada siksaan dan hinaan di dunia dan akhirat. (Imam Ibnu al-Jauzy)
  • Orang yang paling tertipu ialah mereka yang selalu melanggar apa yang Allah benci, namun mereka selalu memohon kepada-Nya agar dikaruniai apa yang mereka sukai dan kehendaki. Orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsunya, namun tetap mengharapkan ampunan dan kebaikan dari Allah. (Imam Ibnu al-Jauzy)
  • Maksiat ibarat makanan yang ditelan oleh orang yang lapar, namun ia tak pernah merasa kenyang, malah membuatnya semakin lapar. (Imam Ibnu al-Jauzy)
  • Hukuman paling pertama bagi orang yang berbohong dari kebohongannya adalah dia tetap dianggap bohong ketika ia bersikap jujur. (Imam Abdullah bin al-Mubarak)
  • Dosa terburuk yang akan berujung pada siksaan maha berat ialah terus-menerus berbuat dosa. Sang pelaku kemudian berpura-pura istighfar, berpura-pura shalat, dan memperbanyak ibadah. Ia mengira bahwa kepura-puraan itu berguna bagi dirinya. (Imam Ibnu al-Jauzy)
  • Tatkala seorang hamba hanya baik kepada makhluk tetapi tidak baik kepada Sang Khaliq, akan terbaliklah keadaan dirinya. Yang memujanya akan mencelanya. (Imam Ibnu al-Jauzy)
  • Tidaklah seseorang memiliki panjang angan-angan, melainkan amalnya menjadi buruk. (Imam Hasan al-Bashri)
  • Anda akan merasakan bahwa mengendalikan hawa nafsu memiliki kenikmatan-kenikmatan yang tiada terkira. Kenikmatan itu akan semakin terasa ketika nafsu semakin kuat dan keras ditekan. Orang yang bisa mengatasi gejolak hawa nafsunya pantaslah dimuliakan dan disebut pemenang. Sebaliknya, seseorang yang dikalahkan hawa nafsunya menjadi pecundang yang sangat hina. (Imam Ibnu al-Jauzy)
  • Hendaklah Anda ingat, tatkala Anda bisa menekan hawa nafsu, akan banyak hikmah dan keselamatan yang Anda peroleh dari kekuatan kesabaran dalam menghadapi gejolak nafsu. (Imam Ibnu al-Jauzy)
  • Rasanya ada orangtua yang tidak lagi dihormati di masa tuanya, hingga ia merasa begitu resah. Ia tidak tahu bahwa hal itu diakibatkan dosa-dosanya di masa muda. Jika Anda melihat suatu siksaan menimpa, ketahuilah bahwa itu diakibatkan oleh dosa-dosa. (Imam Ibnu al-Jauzy)
  • “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" (QS. Al-Mu’minuun, 23:115)
  • “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini." (QS. Al-Fajr, 89:23-24)
  • ”Ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya, dan pergaulilah orang lain dengan akhlak yang baik.”
  • Jangan biarkan hari berlalu tanpa diisi dengan hikmah al Quf’an, ambil dan resapi hingga kelubuk hati, amalkan dan sebarkan.
  • Iman adalah ucapan dengan lisan , keyakinan dengn hati , dan amalan dengan anggota badan.iman juga adalah ucapan dan amalan bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
  • Sesungguhnya orang – orang mukmin itu adalah orang yang apabila di sebut nama Allah gemetarlah hati mereka,dan bila dibacakan kepada mereka ayat – ayat Nya bertambahlah iman mereka,dan mereka hanya bertawakal kepadaRabbnya. ( QS. Al – Anfal ayat 2 – 4 )
  • Orang yang bisa mengalahkan syahwat dan amarahnya maka setan akan takut walau hanya bayangannya. Namun barang siapa dikalahkan oleh syahwat dan amarahnya,dia akan takut dengan khayalannya.
  • Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin kelak di hari kiamat daripada budi pekerti yamg baik . Dan sungguh allah membenci orang yang suka berkata keji , berucap kotor /jelek. (Hr. At – Tirmidzi )
  • Iman itu memiliki 60 cabang . cabangnya yang paling utama adalah ucapan ‘ laa ilaaha illallah ‘ dan cabangnya yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan , dan sifat malu itu juga adalah bagian dari iman. (Hr. Muslim, { dari sahabat Abu Hurairah } )
  • Kalau seandainya orang yang lewat di depan orang yang sedang shalat mengetahui apa yang akan menimpanya (begitu besar dosanya), niscaya ia akan memilih berdiri selama 40 tahun karena itu lebih baik baginya dari pada lewat di depan orang yang sedang shalat .
  • Shalatlah seperti shalat orang yang hendak meninggal, yakni seakan – akan engkau melihat Allah, jika engkau tidak mampu melihat- Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu.
  • Hiasilah Al – Qur ‘ an dengan suara – suara kalian. (Karena suara yang indah lagi merdu akan menambah keindahan Al – Qur ‘ an).
  • Segala urusan yang tidak dimulai dengan Bismillahirahmaanirrohiim maka terputuslah berkahnya (Hadits Nabi)
  • Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah apa yang ada dalam diri mereka (Q.S. Ar-Ra’d ayat 11)
  • Senin, 16 April 2012

    Tentang Iman: Sebuah Risalah Reduktif


    MENGAPA saya beriman atau dengan kata lain mengapa saya harus beriman? Jawaban itu sangatlah mudah dan sekaligus begitu menjadi pertanyaan susah. Alat ukur untuk menilai seseorang beriman atau tidak, tidak dapat diciptakan. Namun, untuk orang-orang tertentu yang merasa dirinya beriman dapat dilihat dalam sebuah tindakan bagaimana dia menilai dirinya.
    Mengapa saya beriman? Wujud tindakan seseorang memperbaki dirinya dihadapan Tuhan dan itu dibuktikan dengan laku orang itu dengan mahluk selain Tuhan. Semakin orang menjadi baik, atau dalam kehidupannya terlihat suatu kemajuan sikap perbaikan diri itu juga merupakan suatu bentuk evolusi keberimanan. Dalam hal ini evolusi jiwa menjadi hal mutlak karena pada dasarnya keberimanan seseorang ada dalam wujud batin dan jiwa yang selalu mendapat bisikan Tuhan.
    Mengapa saya beriman? Mempercayai sesuatu yang terkadang tidak bisa kita pecahkan dengan rasio, itu menuntut mempercayai sesuatu diluar diri, walaupun itu Nampak absurd. Tapi pada saat yang sama, hal semacam itu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Yang (kalau boleh mengutip perkataan Albert Camus) harus kita lawan keabsurdan itu dengan cara memberontak.
    Mengapa saya beriman? Pertanyaan itu sudah menjadi bagian yang mungkin hilang dalam diri setiap orang! Keberimanan kita hari ini bukanlah keberimanan terhadap sesuatu yang Absolut, tapi keberimanan tanpa Tuhan. Karena kita terlanjur percaya kepada petuah-petuah para pembunuh Tuhan. Seperti kata Haji Hasan Mustofa dalamSasaka di Kaislaman, tentang iman perbawaning ti kenca, “Da aing mah rajeun soteh milampah,bawaning ngandel ka beja báe, supaya kanyahoan ku nu nga­bejakeun”. Disini dapat dilihat bahwa keberimanan itu adalah sesuatu yang terberi, bukan sesuatu yang dicari.
    Mengapa saya beriman? Pertanyaan ini haruslah setiap hari kita pikirkan, agar setiap jiwa mampu merekontruksi diri terhadap apa yang diyakininya. Keberimanan menjadi sesuatu yang tidak begitu jelas, karena keberimanan kita dilingkupi ketidakjelasan, ketika dihadapkan dengan hal-hal yang nampak jelas disekitar kita. Ketidakjelasan itu berawal dari ketidakjelasan kita beriman terhadap siapa!
    Beriman tanpa Tuhan menjadi hal niscaya, karena tujuan orang beriman bukan lagi mereguk saripati pengetahuan Tuhan, tetapi berupa fasion kehidupan. Sehingga banyak orang berebut hal-hal bersifat sementara, dan pada saat itu kita beriman kepada hal-hal yang temporer—jijik.
    Beriman tanpa Tuhan menjadi hal unik yang kita lakukan setiap hari. Keberimanan adalah rasa untuk menghayati sesuatu dengan sadar atau tanpa sadar kita sedang menghayati dan menikmati sesuatu. Nah kalau seperti itu keadaannya, keberimanan macam apa yang sedang kita gunakan?
    Mengapa saya beriman? Keberimanan menuntut seseorang untuk menjadi utama, seperti itu ucap Tomas Aquinas. Utama adalah hal yang menjadi dasar cita-cita ideal sesuatu. Platonpun—nabinya para filsuf—mengajarkan untuk hidup menjadi utama karena membawa kepada udomia atau kebahagiaan abadi. Beriman menjadi keniscayaan, jika kita terus memperbaiki diri, merekontruksi cara bersikap. Jika telah seperti itu, maka dengan hal apapun iman-proses menjadi bagian diri.
    Mengapa kita beriman? Tink… Tenk… Tonk… tidak pernah selesai dijawab. Karena merumuskan keberiman menjadi aktifitas keseharian yang akan membuat kita menjadi lebih baik, bukan?

    MAKNA DUA KALIMAT SYAHADAT


    Makna syahadat la ilaha illallah adalah meyakini bahwa tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah kecuali Allah, konsisten dengan pengakuan itu dan mengamalkannya. La ilaha menolak keberhakan untuk diibadahi pada diri selain Allah, siapapun orangnya. Sedangkan illallah merupakan penetapan bahwa yang berhak diibadahi hanyalah Allah. Sehingga makna kalimat ini adalah la ma’buda haqqun illallah atau tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Sehingga keliru apabila la ilaha illallah diartikan tidak ada sesembahan/tuhan selain Allah, karena ada yang kurang. Harus disertakan kata ‘yang benar’ Karena pada kenyataannya sesembahan selain Allah itu banyak. Dan kalau pemaknaan ‘tidak ada sesembahan selain Allah’ itu dibenarkan maka itu artinya semua peribadahan orang kepada apapun disebut beribadah kepada Allah, dan tentu saja ini adalah kebatilan yang sangat jelas.
    Kalimat syahadat ini telah mengalami penyimpangan penafsiran di antaranya adalah :
    • Pemaknaan la ilaha illalah dengan ‘la ma’buda illallah’ tidak ada sesembahan selain Allah, hal ini jelas salahnya karena yang disembah oleh orang tidak hanya Allah namun beraneka ragam
    • Pemaknaan la ilaha illallah dengan ‘la khaliqa illallah’ tidak ada pencipta selain Allah. Makna ini hanya bagian kecil dari kandungan la ilaha illallah dan bukan maksud utamanya. Sebab makna ini hanya menetapkan tauhid rububiyah dan itu belumlah cukup.
    • Pemaknaan la ilaha illallah dengan ‘la hakimiyata illallah’ tidak ada hukum kecuali hukum Allah, maka inipun hanya sebagian kecil maknanya bukan tujuan utama dan tidak mencukupi.
    Sehingga penafsiran-penafsiran di atas adalah keliru. Hal ini perlu diingatkan karena kekeliruan semacam ini telah tersebar melalui sebagian buku yang beredar di antara kaum muslimin. Sehingga penafsiran yang benar adalah sebagaimana yang sudah dijelaskan yaitu : ‘la ma’buda haqqun illallah’ tidak ada sesembahan yang benar selain Allah
    Makna Muhammad RasulullahRujukan : Kitab Tauhid li Shafil Awwal hal. 46
    Sedangkan makna syahadat anna Muhammadar rasulullah adalah mengakui secara lahir dan batin bahwa beliau adalah hamba dan utusan-Nya yang ditujukan kepada segenap umat manusia dan harus disertai sikap tunduk melaksanakan syari’at beliau yaitu dengan membenarkan sabdanya, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya dan beribadah kepada Allah hanya dengan tuntunannya.
    Rukun dan Syarat SyahadatRujukan : Kitab Tauhid li Shafil Awwal hal. 46-48
    La ilaha illallah terdiri dari dua rukun : nafi/penolakan, yaitu yang terkandung di dalam la ilaha dan itsbat/penetapan, yaitu yang terkandung dalam illallah. Maka dengan la ilaha dihapuslah segala bentuk kesyirikan dan mengharuskan mengingkari segala sesembahan selain Allah. Sedangkan dengan illallah maka ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah dan harus tunduk melaksanakannya. Ayat-ayat yang mengungkapkan dua rukun ini banyak, di antaranya adalah firman Allah tentang ucapan Nabi Ibrahim, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari semua sesembahan kalian, selain (Allah) yang telah menciptakan diriku.” (QS. az-Zukhruf : 26).
    Sedangkan rukun syahadat anna Muhammad rasulullah ada dua yaitu ; pernyataan bahwa beliau adalah hamba Allah dan sebagai rasul-Nya. Beliau adalah hamba, maka tidak boleh diibadahi dan diperlakukan secara berlebihan. Dan beliau adalah rasul maka tidak boleh didustakan ataupun diremehkan. Beliau membawa berita gembira dan peringatan bagi seluruh umat manusia.
    Syarat-syarat la ilaha illallah adalah :
    • Mengetahui maknanya, lawan dari bodoh
    • Meyakininya, lawan dari ragu-ragu
    • Menerimanya, lawan dari menolak
    • Tunduk kepadanya, lawan dari membangkang
    • Ikhlas dalam beribadah, lawan dari syirik
    • Jujur dalam mengucapkannya, lawan dari dusta
    • Mencintai isinya dan tidak membencinya
    Syarat-syarat anna Muhammadar rasulullah adalah :
    • Mengakui risalahnya secara lahir dan batin
    • Mengucapkan dan mengakuinya dengan lisan
    • Mengikutinya, yaitu dengan mengamalkan kebenaran yang beliau bawa dan meninggalkan kebatilan yang beliau larang
    • Membenarkan beritanya, baik yang terkait dengan perkara gaib di masa silam atau masa depan
    • Mencintai beliau lebih dalam daripada kecintaan terhadap diri sendiri, harta, anak, orang tua dan seluruh umat manusia
    • Menjunjung tinggi sabdanya di atas semua ucapan manusia dan mengamalkan sunah/tuntunannya
    Konsekuensi Syahadatain
    Rujukan : Kitab Tauhid li Shafil Awwal hal. 50 dengan sedikit perubahan dan penambahan
    Konsekuensi syahadat la ilaha illallah adalah meninggalkan segala bentuk peribadahan dan ketergantungan hati kepada selain Allah. Selain itu ia juga melahirkan sikap mencintai orang yang bertauhid dan membenci orang yang berbuat syirik. Sedangkan konsekuensi syahadat Muhammad Rasulullah adalah menaati Nabi, membenarkan sabdanya, meninggalkan larangannya, beramal dengan sunnahnya dan meninggalkan bid’ah, serta mendahulukan ucapannya di atas ucapan siapapun. Selain itu, ia juga melahirkan sikap mencintai orang-orang yang taat dan setia dengan sunnahnya dan membenci orang-orang yang durhaka dan menciptakan perkara-perkara baru dalam urusan agama yang tidak ada tuntunannya.

    Rabu, 11 April 2012

    HAKIKAT KEIMANAN DAN BUAHNYA

    Keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala itu merupakan hubungan yang semulia-mulianya antara manusia dengan Dzat yang Maha Menciptakannya. Sebabnya yang sedemikian ini ialah karena manusia adalah semulia mulia makhluk Tuhan yang menetap di atas permukaan bumi, sedang semulia-mulia yang ada di dalam tubuh manusia itu ialah hatinya dan semulia-mulia sifat yang ada di dalam hati itu adalah keimanan. 

    Dari segi ini dapatlah kita maklumi bahwasanya mendapatkan petunjuk sehingga menjadi manusia yang beriman, adalah seagung-agung kenikmatan yang dimiliki oleh seseorang, juga semulia-mulia kurnia Allah Ta'ala yang dilimpahkan kepada hambaNya secara mutlak. Dalam hal ini Allah Ta'ala berfirman: 

    "Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan memimpin kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar." (Al-Hujurat: 17) 

    Allah Ta'ala berfirman pula: 

    "Tetapi Allah telah menimbulkan cintamu kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu perhiasan dalam hatimu dan ditumbuhkan pula oleh Allah itu rasa kebencian dalam hatimu terhadap kekufuran, kejahatan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang benar. Demikian itu adalah suatu kurnia dan kenikmatan dari Allah. " (Al-Hujurat: 7) 

    Keimanan itu bukanlah semata-mata ucapan yang keluar dari bibir dan lidah saja ataupun hanya semacam keyakinan dalam hati belaka, tetapi keimanan yang sebenar-benarnya adalah merupakan suatu akidah atau kepercayaan yang memenuhi seluruh isi hati nurani dan dari situ akan muncul pulalah bekas-bekas atas kesan-kesannya, sebagaimana munculnya cahaya yang disorotkan oleh matahari dan juga sebagaimana semerbaknya bau harum yang disemarakkan oleh setangkai bunga mawar. 

    Salah satu daripada kesan-kesan keimanan itu ialah apabila Allah dan RasulNya dirasakan lebih dicintai olehnya dari segala sesuatu yang ada. Ini wajiblah ditampakkan, baik dalam ucapan, perbuatan dan segala geraknya dalam pergaulan dan sewaktu sendirian. jikalau dalam kalbunya itu dirasakan masih ada sesuatu yang lebih dicintai olehnya daripada Allah dan Rasu1Nya, maka dalam keadaan semacam ini dapatlah dikatakan bahwa keimanannya memang sudah masuk, tetapi akidahnya yang masih goyang. . 

    Perhatikanlah firman Allah Ta'ala ini: 

    "Katakanlah: `Jikalau ayah-ayahmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, kekayaanmu yang kamu semua peroleh, perniagaan yang kamu semua khuatirkan ruginya dan tempat kediaman yang kamu semua sukai itu lebih dicintai olehmu daripada Allah dan RasulNya serta berjuang fi sabilillah, maka nantikanlah sehingga Allah akan mendatangkan perintahNya (perintah membinasakan). Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang fasik. " (At-Taubah: 24) 

    Menilik ayat di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa kehidupan di dunia dengan segala apa yang ada di dalamnya seperti orang tua, anak, cucu, saudara, isteri atau suami, keluarga, harta, perniagaan, rumah dan lain-lain itu, jikalau semua itu ada salah satunya yang masih lebih dicintai oleh seseorang melebihi kecintaannya kepada Allah dan RasulNya, maka baiklah ia menunggu saja siksaan Allah Ta'ala yang akan menimpa dirinya. Orang semacam itu pasti hatinya lebih sibuk untuk memikirkan apa-apa yang dicintainya itu daripada memperhatikan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah guna dilaksanakan dan apa-apa yang dilarang olehNya guna dijauhi. 

    Keimanan itu memang tidak mungkin dapat sempurna melainkan dengan rasa cinta yang, hakiki, yang senyata-nyatanya dan yang sebenar-benarnya. Cinta itu ialah yang ditujukan kepada Allah Ta'ala, kepada RasulNya dan kepada syari'at yang diwahyukan oleh Allah kepada RasulNya itu. Dalam sebuah riwayat yang shahih disebutkanlah sabda Rasulullah s. a. w., demikian: 

    "Ada tiga perkara yang barangsiapa sudah memiliki ketiganya itu, maka ia akan dapat merasakan kelezatan nikmatnya keimanan, yaitu: (1) Apabila Allah dan RasulNya itu lebih dicintai olehnya daripada yang selain keduanya itu. (2) Apabila seseorang itu mencintai orang lain dan tidaklah mencintanya itu, melainkan karena Allah juga (mengharapkan keridhaan Tuhan). (3) Apabila seseorang itu benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana bencinya kalau dilemparkan ke dalam api neraka. " (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim) 

    Rasulullah s. a. w. bersabda pula: 

    "Belum sempurnalah keimanan seseorang dari kamu semua sehingga saya lebih dicintai olehnya melebihi kecintaannya kepada orang tuanya, anaknya, juga dirinya sendiri yang ada di antara kedua lambungnya dan seluruh manusia. " (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim) 

    Umar r. a. pernah datang kepada Rasulullah s. a. w. lalu berkata: 

    "Ya Rasulullah, sebenarnya bahwa Tuan itu yang paling kucintai melebihi segala sesuatu selain diriku sendiri." Beliau lalu bersabda: 

    "Tidak boleh, hai Umar, sehingga akulah yang lebih kau cintai daripada dirimu sendiri." Umar berkata lagi: "Demi Allah yang mengutus Tuan dengan benar, sesungguhnya Tuanlah yang lebih kucintai dari diriku sendiri." 

    Beliau s.a.w. lalu bersabda pula: 

    "Nah, sekarang, hai Umar, sekarang benar-benar sempurna keimananmu. " 

    "Tidak sempurnalah keimanan seseorang, sehingga ia dapat mengikutkan keinginan hatinya itu sesuai dengan agama yang saya bawa ini (yakni kemahuannya disesuaikan dengan hukum-hukum agama). " 

    Sebagaimana keimanan itu dapat membentuk buah yang berupa kecintaan, maka ia harus pula dapat menimbulkan buah lain yang berupa perjuangan (jihad) dan berkorban untuk meninggikan kalimatullah yakni bahwa agama Allah harus di atas segala-galanya. juga mengadakan pembelaan untuk mengibarkan setinggi-tingginya bendera kebenaran, berusaha segigih-gigihnya untuk menolak adanya penganiayaan, kezaliman dan kerosakan yang dibuat oleh manusia yang sewenang-wenang di atas permukaan bumi ini. 

    Banyak sekali keimanan itu dirangkaikan penguraiannya dengan persoalan jihad, karena memang jihad ini adalah jiwa keimanan dan itu pula yang merupakan kenyataan amaliahnya. 

    Allah Ta'ala berfirman: 

    "Hanyasanya kaum mukminin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, kemudian tidak pernah bimbang lagi dan berjihad dengan harta dan dirinya untuk mengagungkan agama Allah, maka mereka itulah orang-orang yang benar. " (Al-Hujurat: 15) 

    Allah Ta'ala berfirman pula: 

    "Sesungguhnya Allah telah membeli diri dan harta orang-orang yang beriman dengan memberikan syurga kepada mereka itu, mereka berperang fi sabilillah dan oleh sebab itu mereka lalu membunuh dan terbunuh, menuruti janji yang sebenarnya dari Allah yang tersurat dalam kitab Taurat, Injil dan Quran. Siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah itu? Oleh karena itu, maka bergembiralah kamu semua dengan perjanjian yang telah kamu semua perbuat. Demikian itu adalah suatu keuntungan yang besar sekali." (At-Taubah: 111) 

    Perjuangan sebagaimana di atas itu sudah tampak nyata di kalangan kaum mukminin yang pilihan yakni mereka yang hidup dalam permulaan waktu perkembangan Islam yang jaya, sehingga patutlah bahwa mereka itu memperoleh pujian Allah Ta'ala, sebagaimana firmanNya: 

    "Di antara orang-orang yang beriman itu ada beberapa orang yang menepati apa yang telah dijanjikannya kepada Tuhan, di antaranya ada yang mati syahid dan di antaranya ada pula yang sedang menantikan kematian syahid itu dan mereka tidak ada yang berubah barang sedikit pun. " (Al-Ahzab: 23) 

    Adapun kesan keimanan itu tampak nyata sekali dalam ketakutannya kepada Allah Ta'ala serta segan padaNya. Sebabnya ialah karena seseorang yang sudah mengetahui dan menginsafi benar-benar akan kedudukan Allah, menyadari pula akan kemaha-agunganNya, merasakan kebesaran kekuasaan dan kemuliaanNya, kemudian mengerti pula kekuasaan dan kemuliaanNya, kemudian mengerti pula keadaan dirinya sendiri yang sangat lalai, gelabah dan kurang banyak menaruh perhatian pada hak-haknya Allah Ta'ala, maka tentulah orang yang sedemikian ini akan menjadi sangat takut dan segan kepada Tuhannya. 

    Allah Ta'ala berfirman: 

    "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah para ulama." (Fathir: 2)

    Inilah yang merupakan tanda dari prang-prang yang berpegang teguh pada kebenaran serta memperjuangkan betul-betul akan keluhuran agama Allah Ta'ala. 

    Dalam hal ini Allah berfirman: 

    "Orang-orang yang teguh agamanya ialah orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka itu takut kepadaNya dan tidak ada seseorang pun yang ditakuti melainkan Allah. Cukuplah Allah itu pembuat perhitungan. " (Al-Ahzab: 39) 

    Manakala kema'rifatan kepada Allah itu sudah lebih sempurna, maka ketakutan kepadaNya itu akan lebih mendalam pula. Rasulullah s. a. w. bersabda: 

    "Sesungguhnya saya adalah orang yang lebih mengetahui tentang DzatNya Allah itu dan sayalah yang paling takut kepadaNya itu." 

    Sebesar-besar hal yang ditampakkan oleh keimanan itu ialah berpegang teguh pada wahyu, sebab memang wahyu itulah yang merupakan sumber yang paling jernih yang sama sekali tidak dicampuri oleh kotoran hawa nafsu atau bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh perkiraan atau persangkaan. 

    Berpegang teguh kepada wahyu Ilahi itulah yang justeru merupakan perhubungan yang seerat-eratnya dengan Allah Ta'ala itu sendiri. Hal itu dapat diperoleh dengan mudah sekali tanpa menggunakan perantara dan yang sedemikian ini adalah setepat-tepatnya cara berhubungan sebab dapat dilakukan secara langsung. 

    Seluruh kaum mukminin tentunya harus mengarahkan pandangannya ke arah ini, sehingga tidak bercampur-baurlah kebenaran yang menjadi kepercayaan mereka itu dengan berbagai macam kebatilan yang dibikin-bikin oleh manusia serta pengertian-pengertian yang keluar dari penafsiran manusia sendiri. 

    Allah Ta'ala berfirman: 

    "Hanyasanya ucapan-ucapan kaum mukminin itu, apabila mereka dipanggil kepada Allah dan RasulNya, supaya Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, mereka lalu mengatakan: "Kita mendengar dan kita pun mentaatinya". Mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya, juga takut dan bertagwa kepadaNya, maka itulah orang-orang yang memperoleh kebahagiaan. " (An-Nur: 51-52) 

    Allah Ta'ala berfirman pula: 

    "Bagi seorang yang beriman, baik lelaki atau perempuan, apabila Allah dan RasulNya sudah menetapkan suatu keputusan, mereka tidak akan memilih menurut kemauannya sendiri dalam urusan mereka itu. Dan barangsiapa yang tidak mentaati Allah dan RasulNya, maka ia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. " (Al-Ahzab: 36) 

    Lagi firmanNya: 

    "Tetapi, tidak! Demi Tuhanmu. Mereka itu belum beriman dengan sebenarnya, sehingga mereka suka meminta keputusan kepadamu (Muhammad) dalam perkara -perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak menaruh keberatan dalam hatinya terhadap putusan yang engkau adakan dan mereka menyerah dengan penyerahan yang sepenuh-penuhnya. " (An-Nisa': 65) 

    Keimanan itu akan menimbulkan ikatan yang beraneka ragam. Ia akan dapat merupakan tall pengikat antara kaum Muslimin dengan Allah. Tali pengikat itu berupa kecintaan dan kesukaan. Juga akan menumbuhkan hubungan yang erat sekah antara sesama kaum mukminin itu sendiri, antara yang seorang dengan lainnya, yang didasarkan atas landasan kekasih sayangan serta kerahmatan. 

    Tetapi keimanan juga dapat menumbuhkan hubungan antara kaum mukminin dengan para musuh Tuhan yang hendak menghalang-halangi jalan yang benar, yaitu atas dasar kekerasan dan ketegasan sikap. 

    Perhatikanlah firman Allah Ta'ala ini: 

    "Hai orang-orang yang beriman. Barangsiapa yang surut kembali dari agamanya, maka nanti Allah akan mendatangkan kaum yang dicintai olehNya dan mereka pun mencintaiNya. Mereka itu bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir. Mereka berjuang di jalan Allah dan tidak takut pada celaan dari orang yang mencelanya. Demikian itulah keutamaan Allah yang dikurniakan kepada siapa yang dikehendakiNya. Allah adalah Maha Luas pemberianNya serta Maha Mengetahui. " (Al-Maidah: 54) 

    Sifat-sifat sebagaimana di atas itu telah jelas tampak dalam peribadi Rasulullah s. a. w. serta sekalian sahabatnya, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta'ala: 

    "Muhammad adalah pesuruh Allah dan orang-orang yang besertanya itu bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi kasih sayang antara sesama mereka. Engkau melihat mereka rukuk dan sujud, mencari keutamaan dari Allah serta keridhaanNya. Di wajah mereka ada tanda-tanda bekas sujud (pada air mukanya membayang cahaya keimanan dan kesucian batin). Itulah perumpamaan mereka dalam Taurat dan perumpamaan mereka dalam Injil, yaitu sebagai tanaman yang mengeluarkan tunasnya yang lembut, kemudian bertambah kuat dan besar, dapat tegak di atas batangnya, menyebabkan orang-orang yang menanam itu menjadi keheran-heranan, tetapi dapat menyebabkan orang-orang yang kafir menjadi marah sekali. Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik, bahwa mereka akan memperoleh pengampunan dan pahala yang besar. " (Al-Fath: 29) 

    Amal perbuatan yang shalih yang dengannya itu jiwa dapat menjadi suci, hati menjadi bersih dan kehidupan menjadi tenang, sentosa dan makmur adalah merupakan salah satu bekas yang ditimbulkan oleh rasa keimanan yang mendalam. 

    Oleh sebab itu dalam Al-Quran seringkah terdapat ayat-ayat yang merangkaikan persoalan keimanan itu dengan amalan yang shalih, karena memang keimanan itu apabila sunyi dari amal perbuatan yang shalih, maka itu adalah keimanan yang dijangkiti oleh penyakit. jadi keimanan yang demikian itu adalah sebagai pohon yang tidak menumbuhkan buah-buahan apa pun dan tidak pula mengeluarkan daun yang rindang, sehingga dapat digunakan berteduh di bawahnya, pohon yang sedemikian itu lebih baik dilenyapkan saja daripada tetap ada. 

    Tetapi sebaliknya apabila suatu perbuatan yang tampaknya baik, jikalau tidak disertai dengan rasa keimanan, maka amalan yang sedemikian itu adalah merupakan perbuatan riya' atau pameran dan pula sebagai suatu perilaku kemunafikan. Kemunafikan dan pameran itu adalah sejahat jahatnya sifat yang hinggap dalam hati seseorang manusia. Resapkanlah firman Allah Ta'ala ini: 

    "Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Demi masa. Sesungguhnya manusia itu niscaya dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengamalkan perbuatan-perbuatan yang baik, saling mewasiati untuk menetapi kebenaran dan saling mewasiati untuk berhati sabar." (Al-`Ashr: 1-3) 

    Keimanan yang dapat membuahkan amal shalih itulah keimanan yang diajarkan oleh Al-Quran dan itu pulalah keimanan yang dikehendaki oleh Allah Ta'ala agar dimiliki oleh semua hamba-hambaNya. 

    Keimanan itu apabila telah menjadi suatu kenyataan yang sehebat-hebatnya, maka ia dapat berubah dan beralih sehingga merupakan suatu tenaga atau kekuatan yang tanpa dicari-cari akan datang dengan sendirinya dalam kehidupan ini, sebab keimanan tadi akan mengubah manusia yang asalnya lemah menjadi kuat, baik dalam sikap dan kemauan, mengubah kekalahan menjadi kemenangan, keputus-asaan menjadi penuh harapan dan harapan ini akan dicetuskan dalam perbuatan yang nyata. 

    Allah Ta'ala berfirman: 

    "Sesungguhnya Kami (Allah) akan menolong Pesuruh-pesuruh (Rasul-rasul) Kami dan orang-orang yang beriman, dalam kehidupan dunia ini dan pada hari berdirinya para saksi (hari kiamat)." (Ghafir: 51)' 

    Allah Ta'ala berfirman pula: 

    "Dan sudah menjadi hak Kami untuk memberi pertolongan kepada orang-orang yang beriman itu." (Ar-Rum: 47)