Jumat, 30 Maret 2012

HAKIKAT QOLBU DAN RUH

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing & menolong kita agar dapat senantiasa
menjadi insan yang berakal. Yang mampu mengendalikan dan mengarahkan dorongan hawa
nafsu serta gejolak syahwat  yang ada pada diri kita sesuai dengan hukum-hukum syara’ yang
ditetapkan oleh Allah SWT, sehingga dengan izin & pertolongan-Nya kita dapat meningkatkan
lagi derajat ruh kita menjadi “Qolbu” dan “Ruh”.

Qolbu
Ketika nafsu sudah reda dari perbuatan-perbuatan maksiat-maksiatnya & mulai tenang
karenanya, namun terkadang masih berubah-ubah diantara sadar & lalai, atau antara ingat &
lupa  antara dorongan taat & maksiat, maka ia dinamakan “Qolbu”.
Orang yang ruhnya sudah sampai derajat qolbu maka ia sudah dapat meninggalkan
perbuatan-perbuatan maksiat & dosa dengan ringan & tenang, karena dorongan-dorongan hawa
nafsu untuk berbuat maksiat & dosa sudah mulai reda dari dirinya. Bahkan ia merasa malu
kepada Allah jika muncul keinginan berbuat maksiat,  serta gelisah hatinya jika berbuat khilaf.
Rosulullah SAW bersabda :  “Ketika kamu tidak merasa malu, maka berbuatlah apa saja yang
kamu kehendaki” (HR. Bukhari & Muslim). Ini menunjukkan bahwa jika ruh sudah sampai derajat
qolbu, maka akan tumbuhlah rasa malu kepada Allah yang akan menjadi benteng yang sangat
kokoh dari  keterjerumusan  kepada perbuatan nista & dosa.
Ibadah bagi orang yang berderajat qolbu sudah terasa indah & nikmat. Sholat & dzikirnya
khusyu’, do’a & munajatnya sungguh-sungguh, amalnya ikhlas, pembicaraanya bermakna &
akhlaknya mulia.
Seorang mukmin yang derajat ruhnya sudah naik ke derajat qolbu maka hatinya sudah
mulai dimasuki “Nurullah” atau “Cahaya-cahaya Allah”, hidayah & ilmu karunia-Nya meresap &
bercahaya di dalam qolbunya, sehingga ia dapat dijadikan tempat bertanya & meminta fatwa.
Rasulullah SAW bersabda  :”Mintalah fatwa kepada qolbumu. Kebaikan itu adalah yang
menentramkan nafsu & qobu, sedangkan dosa adalah yang menggelisahkan nafsu &
meresahkan qolbu” (HR. Ahmad).
Mukmin yang ruhnya sudah sampai derajat qolbu, maka keimanannya kepada Allah &
Rosul-Nya begitu suci, kokoh & mendalam, mendahului akal & pikirannya. Satu ayat Allah yang
ia dengar atau baca akan langsung bersinar & mencahayai dirinya, mencahayai orang yang di
sisinya, mendorong amal & membangkitkan semangat berjuang di jalan-Nya. Bahkan ayat-ayat
Al-Qur’an yang telah ia baca walaupun akalnya belum sampai pemahamannya atau  bukti belum
ditemukannya, jika itu adalah berita atau janji dari Allah, ia akan mengimani & meyakininya.  
Para sahabat Rasulullah SAW adalah gambaran pribadi-pribadi berderajat qolbu ini.
Sesaat setelah masuk Islam, satu ayat Al-Qur’an yang ia dengar atau baca, kemudian satu
taushiah Rasulullah yang ia terima akan merubah kepribadiannya, membangkitkan amalnya &
mengobarkan semangat jihadnya.
Tidak sedikit sahabat Rasulullah SAW yang telah menjadi “Pahalawan Islam” yang luar
biasa jasanya dalam dakwah Islam walaupun belum sempat khatam Al-Qur’an, karena beliau
syahid di medan jihad sebelum Al-Qur’ an selesai diturunkan. Diantara sahabat tersebut adalah
Mush’ab Bin Umair,  Hamzah Bin Abdul Muthalib, Zaid Bin Haritsah, Abdullah Bin Rawahah &
Ja’far Bin Abi Thalib. Allah SWT berfirman :“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah
mereka yang apabila disebut asma Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayatayat-Nya, maka bertambahlah iman mereka (karenanya)” (QS.8. Al-Anfaal : 2).
“Ruh” yang sudah sampai derajat “Qolbu” senantiasa “Tawajjuh”, menghadap Allah SWT
baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring. Hamba-hamba Allah yang berqolbu bersih
atau selamatlah yang akan beruntung & mulia di saat menghadap Allah di akhirat kelak. Allah
SWT berfirman :”Pada hari yang tiada gunanya harta benda & anak-anak, kecuali orang-orang
yang menghadap Allah dengan qolbu yang selamat” (QS.26. As-Syu’araa’ : 88-89).

Ruh
Ketika qolbu sudah disinari cahaya-cahaya  “Tawajjuh”, terus-menerus cahaya tawajjuh
itu datang ke dalamnya, kemudian ia merasa tenang menghadap Allah & tuma’ninah di dalam
dzikir kepada-Nya, maka ia dinamakan “Ruh”. Ruh yang telah sempurna sebagai ruh.
Ruh akan senantiasa merindukan saat-saat  “Tawajjuh”, yaitu saat-saat menghadap &
mendekat kepada Allah. Ia akan merasakan ketenangan yang tidak terkira di saat dzikir, ibadah
& aktifitas amal-amal sholih lainnya. Di dalam sholat ia sangat menikmati & hanyut dalam khusyu’
saat menggetarkan kalimat  “Inni Wajjahtu Wajhiya Lilladzi Fathorossamaawaati  wal ardho …”
yang artinya “Sesungguhny aku menghadapkan wajahku (beserta seluruh jiwa ragaku) ke Hadirat
Dzat Yang Menciptakan langit dan bumi …..”. Tawajjuh yang sungguh-sungguh ini disambut oleh
Allah yang kemudian memancarkan ke dalam dirinya cahaya-cahaya “Muwajahah”, yaitu cahaya
menghadap-Nya Allah untuk menerima tawajjuh-nya ruh seorang hamba. Jadi  “Ruh” adalah
permulaan tempat bersinarnya cahaya-cahaya “Muwajahah”.
Jika Allah sudah memancarkan cahaya “Muwajahah” ke dalam ruh seorang hamba-Nya,
maka mulailah tersingkap hijab dari dirinya & terbukalah pintu untuk masuk ke Hadirat Allah, Dzat
Yang Paling Dicintai oleh seorang hamba.
Orang yang sudah sampai derajat  “Ruh” ini, terkadang mulai muncul dalam
kehidupannya  “Khoriqul ‘Adat”, yaitu hal-hal yang diluar kebiasaan kebanyakan orang, baik
yang berupa  “Ma’unah”  atau  “Karomah”. Ma’unah adalah pertolongan Allah yang diberikan kepada orang-orang mu’min yang taat  & istiqomah, sedangkan “Karomah” adalah pertolongan &
penghormatan dari Allah kepada para  “Waliyullah”. Waliyullah ialah orang-orang yang sangat
dicintai dan disayangi oleh Allah SWT. Ia dikaruniai oleh Allah kesanggupan sholat, dzikir, baca
Al-Qur,an, puasa & ibadah-ibadah lain lainnya yang luar biasa. Do’anya mustajab sehingga dapat
menjadi jalan pertolongan Allah bagi sesamanya. Kekuatan pendengaran, pandangan & tenaga
jasadnya dapat menjadi luar biasa. Bahkan, ia terkadang diberi karunia oleh Allah SWT dapat
mengetahui sesuatu yang tersembunyi atau belum terjadi.
Rosulullah SAW bersabda, bahwa Allah SWT berfirman (dalam Hadits Qudsy):”Tidaklah
seorang hamba taqurrub (mendekat)  kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dari pada
dengan segala sesuatu yang Aku wajibkan atasnya. Dan terus-menerus hamba-Ku taqorrub
kepadap-Ku dengan amal-amal sunnah sehingga Aku mencintainya. Ketika Aku telah mencintaiNya, maka Aku menjadi pendengaran-Nya yang dengannya ia mendengar, menjadi matanya
yang dengannya ia melihat,  menjadi tangannya yang dengannya ia memukul & menjadi kakinya
yang dengannya ia berjalan. Dan sungguh, jika ia memohon kepada-Ku, niscaya akan Aku akan
memberikannya, dan jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku akan
melindunginya” (HR. Buhkhari).
Semoga Allah SWT membersihkan ruh kita dan memberikannya derajat yang tinggi di
sisi-Nya. Wallaahu A’lam Bisshowaab.


Pertanyaan  :
AsSalaamu’aikum Wr. Wb.
Ustadz saya ingin bertanya :
1. Mengapa saya kalau mau menjalankan ibadah sunnah terasa malas ?
2. Kenapa rasanya ingin keluar dari tempat bekerja agar bisa ibadah ?
Jawaban :
Wa’alaikumussalam Wr. Wb.
1. Orang yang malas ketika akan atau sedang melakukan sesuatu biasanya karena ia belum
memahami manfaat apa yang ia lakukan atau hasil yang akan ia dapatkan. Orang akan
malas belajar jika ia belum tahu bahwa belajar adalah proses menjadi orang yang berilmu,
dan ilmu adalah modal menjadi orang yang sukses. Orang akan malas bekerja jika ia belum
tahu bahwa hasil dari pekerjaannya akan dapat menjadi jalan tercukupinya kebutuhan
hidupnya dan terbangunnya kehormatannya. Oleh karena itu agar semangat dalam ibadah
baik wajib maupun sunnah, kita harus terus memperdalam pemahaman kita terhadap
manfaat dan balasan yang akan Allah SWT berikan kepada hamba-hamba-Nya yang taat
beragama & tekun beribadah. Rosulullah SAW bersabda, “Orang yang Allah kehendaki lebih
baik (nasibnya), maka Ia akan mendalamkan pemahamannya dalam agama”. Selain itu
masukilah lingkungan yang kondusif untuk ibadah dan bersahabatlah dengan orang-orang
shalih yang sudah dekat dengan Allah SWT sebagaimana yang telah dilakukan oleh para
Sahabat Nabi SAW. Juga berdo’a kepada Allah, karena Dia Yang Maha Kuasa memberi
taufiq, hidayah & ‘inayah kepada kita untuk menjadi orang yang kuat, tekun dan istiqomah
dalammibadah.
2.  Pekerjaan adalah bagian dari tempat & saat kita beribadah kepada Allah. Jika Allah memberi
kita lapangan pekerjaan atau peluang usaha,  maka hakikatnya itu adalah bagian dari masjid
tempat kita bersujud atau sajadah tempat kita beribadah kepada Allah di jam-jam kerja &
aktifitas. Selagi tanpa jalan pekerjaan atau usaha  itu kebutuhan hidup kita belum tercukupi,
hati & pikiran risau, serta tamak dengan pemberian orang lain, maka pekerjaan atau usaha
belum boleh di tinggalkan. Meninggalkan pekerjaan atau usaha dalam kondisi seperti ini
adalah termasuk  “Syahwat yang tersembunyi” yang merupakan tipu daya syetan. Kita baru
dibolehkan meninggalkan kerja dan usaha dhohiriah jika tanpa itu semua kebutuhan kita
tetap tercukupi, tidak tamak terhadap pemberian orang lain, dan fokus kita di dalam “Ibadah
& Tafaqquh Fiddiin” menentramkan hati & pikiran kita serta “Lebih Bermanfaat bagi Ummat”.
Rosulullah SAW bersabda,  “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat  bagi
sesama manusia”.
 

BERIMAN KEPADA YANG GHOIB

salah satu akidah islam adalah beriman{menyakini} adanya hal'' ghaib.bahkan,kenyakinan ini merupakan sifat utama yang di sematkan allah kepada orang'' yang bertaqwa,sebagaimana firman'nya:

''alif lam mim.kitab {al-Qur'an} ini tidak ada keraguan padanya;petunjuk bagi mereka yang bertakwa,{yaitu} mereka yang beriman kepada yang ghaib,yang mendirikan sholat,dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugrahkan kepada mereka...''{Al-Baqarah:1-3}


karena itu,seorang muslimwajib mengimani hal yang ghaib dengan keimanan yang mantap,tanpa di campuri keraguan dan kebimbangan sedikitpun.
Menurut abdullah bin mas'ud pengertian ghaib adalah sesuatu yang tidak bisa kita indera,dan allah serta rasul'ny telah memberitahukan perkara{ghaib} ini kepada kita.
  Dalam hal ini jin merupakan salah satu makhluk ghaib yang harus kita yakini keberada'an nya.sebab,banyak sekali dalil yang menyatakan tentang hal ini,baik dari Al-Qur'an maupun Al-hadits.


  Dalil dari Al-qur'an:
''dan {ingat lah}ketika kami hadapkan serombongan jinkepadamu yang mendengarkan al-qur'an,maka tatkala mereka menghadiri pembaca'an{nya} lalu mereka berkata:''Diam lah kamu {untuk mendengarkan nya}.''ketika pembaca'an telah selesai mereka kembali kepada kaum nya {untuk} memberi peringatan.''{Al-Ahqaf;29}.




''Hai golongan jin dan manusia,apakah belum datang padamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri yang menyampaikan ayat-ayat ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini mereka berkata:''kami menjadi saksi atas diri kami sendiri,''kehidupan dunia telah menipu mereka,dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri,bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.''{Al-An'am:130}




''hai segenap bangsa jin dan manusia,jika kamu sanggup menembus {melintasi} penjuru langit dan bumi,maka lintasilah,kamu tidak dapat menembus ny kecuali dengan kekuatan.''{Ar-Rahman:33}




''katakan lah {hai muhammad},'telah di wahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan {Al-qur'an},lalu mereka berkata,''sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-qur'an yang menakjubkan.''{Al-Jin:1}




''dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin,maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.''{Al-Jin:1}




Dlil dari hadits:
     1.imam muslim meriwayatkan dalam shahih ny:abdullah bin masud bercerita,''kami pernah bersama rasulullah pada suatu malam,tiba'' kami kehilangan beliau.maka kami pun bergegas mencari beiau di bukit,lembah dan pegunungan.kami berkata,'apakah beliau di culuk atau di bunuh?'.sehingga malam itupun menjadi malam terburuk yang pernah kami lalui dalam kehidupan kami.pada pagi harinya,tiba'' beliau dtang dari arah gua hira.dan kami berkata.'wahai rasulullah,kami kehilangan engkau,lalu kami bergegas mencari-cari baginda,tetapi kami tidak menemukan engkau,malam tadi merupakanmalam terburuk yang pernah kami lalui.'beliau bersabda,'aku di datangi oleh seorang juru dakwah dari bangsa jin,lalu aku pun berangkat bersamnaya untuk membacakan al-qur'an kepada teman-teman'ny.


  ibnu mas'ud melanjutkan ceritanya,'lalu nabi mengajak kami untuk memperlihatkan bekas-bekas yang di tinggalkan mereka dan bekas cahaya mereka.jin-jin tersebut juga menanyakan kepada rasulullah makanan apa yang harus mereka makan.maka beluiau bersabda,'makanan kalian adalah tulang binatang yqng kalian temukan dan ketika menyembelihnya di sebutkan nama allah,dan itu merupakan makanan yang paling banyak daging nya,serta kotoran binatang.'kemudan rasulullah bersabda,'janganlah kamu istijak {cebok} dengan kedua benda ini,karena kedduanya adalah makanan pokok bagi saudara-saudaramu {bangsa jin}'.''


    2.dari abu said al-kudri,dia berkata''rasulullah pernah bersabda kepadaku:
''aku perhatikan kamu sangat menyukai kambing dan mengembalakan nya ke lembah.jika kamu berada di suatu lembah bersama kambingmu,lalu kamu ingin mengumandangkan suara adzan untuksholat,keraskan lah suaramu.karena setiap jin,manusia dan apa saja yang mendengar suara muadzin yang mengumandangkan adzan,kelak akan menjadi saksi bagi nya di hari kiamat'.''




      3.imam al-bukhari dan muslim meriwayatkan dalam kedua kitab shahih'ny:abdullah bin abbas berkata.''pada suatu hari rasulullah bersama serombongan shahabat pergi menujupasar ukazh.ketika itu,setan-setan merasa terhalang {tidak bisa} mendengarkan berita dari langit {yang menjadi kebiasa'an ny} dan mereka juga di lempari bintang-bintang.akhirnya para setan itu kembali kepada kaum mereka.
maka kaum mereka bertanya.''ada apa dengan kalian?
  mereka menjawab.''sesungguhnya kita terhalang untuk mendapatkan berita langit dan bintang-bintang juga di emparkan ke arah kita.''mereka berkata,''berita langit tidak mungkin terhalang dari kalian,kecuali ada sesuatu yang terjadi.oleh karena itu,berpencarlah kalian menuju penjuru timur dan barat,lalu carilah apa sebenarnya yang membuat berita langit tidak bisa kalian dengar!''maka,sekelompok setan yang pergi ke arah tihamah,mendapati rasulullah yang hendak berangkat ke pasar ukadz sedang beristirahat di nakhlah {nama sebuah tempat}.sa'at itu beliau bersama para shahabat sedang melaksanakan shalat shubuh.

   ketika mereka mendengar baca'an al-qur'an rasulullah,merekapun menyimaknya dengan seksama.lalu di antara mereka berkata kepada yang lain,''demi allah,inilah yang menghalangi kalian untuk mendengarkan berita langit.''maka ketika kembali lagi kepada kaum mereka,mereka berkata,''wahai kaum kami,sesungguhnya kami telah mendengarkan baca'an al-qur'an yang sangat menakjubkan.ia menunjukan kepada jalan kebenaran,maka kamipun beriman kepadanya.dankami tidak akan menyekutukan rabb ami dengan sesuatu apapun.kemudian allah menurunkan firman'nya:
''katakan lah{hai muhammad}' telah di wahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan {al-qur'an}',lalu mereka berkata sesungguh nya kami telah mendengarkan al-qur'an yang menakjubkan'.''{Al-Jinn:1}


    yang di wahyukan kepada rasulullah ini adalah perkata'an jin sedangkan dalil-dalil yang menunjukan keberada'an mereka masih banyak.insa'allah akan anda temukan di sela'' pembahasan ini.




tidak bisa di lihat,bukan berarti tidak ada

    jika tidak bisa melihat jin di jadikan dalil bahwa jin tidak ada,maka berapa banyak sesuatu yang tidak bisa kita ihat,namun pada hakikat'ny ia ada.sebagai contoh:arus listrik tidak bisa kita lihat di kabel listrik tetapi kita bisa tahu bahwa ia ada melalui bekas-bekasnya pada lampu atau yang lain'ny.
begitu pula udara yang tiap hari kita hirup untuk bernafas,kita tidak bisa melihatnya,tetapi dapat merasakan keberada'an nya.
bhkan,ruh{nyawa} yang merupakan salah satu penyangga kehidupan kita,karenanya kita bisa hidup dan tanpanya kita mati,tidak bisa kita lihat dan ketahiu hakikatnya.
namun demikian,kita menyakini keberada'an nya.

Kamis, 29 Maret 2012

RUQYAH


Dalam Kesempatan ini Ijinkan saya Yang Dhoif Ingin menyampaikan Sedikit Artikel Di Karenakan Keterbatasan dan Kebodohan Saya Mengenai Pengobatan, Dalam Hal Ini Saya Menyampaikan Artikel “ RUQYAH “. Ruqyah adalah Metode Pengobatan dengan Ayat Al-Quran, Dzikir dan Wirid., Ruqyah adalah Suatu Tekhnik Pengobatan yang dianjurkan Dalam Islam dan Disamping Ruqyah kita juga berusaha Ikhtiar dengan Pengobatan yang dilakukan dengan Medis.
Wa Idzaa Maridhtu Fa Huwa Yasyfiin : Dan Apabila Aku Sakit maka Dia Penyembuhku
( QS Asy-Syu’araa : 80 ), Wa Nunazzilu Minal Qur-aani Maa Huwa Syifaa-uw wa Rohmatul Lil Mu’Miniina : Dan Kami Turunkan Dari Alquran itu sebagai penyembuh dan rahmat bagi orang-orang Mukmin ( QS Al-Israa : 82 )
Langkah-Langkah Awal untuk Technik Ruqyah Adalah kita Memohon Kepada Allah SWT Untuk Penyembuhan penyakit apabila penyakit yang datangnya karena Allah mohon diberikan obat dan penyembuhan dan apabila Penyakit yang datangnya akibat gangguan makhluk Lain mohon dimusnahkan dan di berikesembuhan karena Seizin Allah SWT.
1 – Mengucapkan Istiqfar lalu dilanjutkan Dengan Niat Untuk Penyembuhkan Penyakit hanya Karena Allah Semata “ Bismillaahir Rohmaanir Rohiim Yaa Allah dengan Se-IzinMu, Dan Dengan RidhoMU Serta Ridho Kedua Orang Tua Mohon Disembuhkan (Nama Yg Diruqyah Bin/Binti ),apabila Penyakit Ini datang karena Engkau Hamba Mohon diberikan obat dan Penyembuhan dengan Ruqyah ini sebagai obat,dan Apabila Penyakit ini datang Karena Mahluk lain Hamba Mohon Disembuhkan dan Di Musnahkan dari Pengaruh JIN atau Syetan yang berada di Tubuh (Nama Yg Diruqyah Bin / Binti ), Laa Illaaha Illaa Antaa, Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaahil’Aliyyil’Azhiim
2 – Tawasul Kepada Nabi Muhammad Rasululloh SAW.
3 – Membaca Sholawat Syifaa Atau Sholawat Thibbil Qulub 1 X
Sholawat Syifaa:
Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
“ Allahumma Sholi Alaa Sayyidina Muhammadin Thibbil Qulubi Wa dawa’ihaa Wa Afiyatil Abdani Wa Syifa’ihaa Wa Nurill Abshori Wa Dhiya’Ihaa Wa Quwtila arwahi Wa Ghidza’ihaa Wa Alaa alihii Wa Shohbihii Wa Salliim”.
Diteruskan Dengan membaca :
4 – Bismillahil-Ladzi Laa yadhurru Ma’as-mihi Syai-un Fil Ardhi Wa Laa Fis Sama-i Wa Huwas-Sami’ul Aliim . ( 3 x )
5 – A’udzu Bikalimatillahit-tammatillati Laa Yujawizu Hunna Barrun Wa La Fajirun Min Syarri Ma Kholaqa Wa Dzaro-a Wa Baro-a Wa Min Syarri Ma Yanzilu Minas-sama-I Wa Min Syarri Ma yakh’ruju Fiha Wa Min Syarri Ma Dzaro-a Fil Ardhi Wa Min Syarri Ma Yakhruju Minhaa, Wa Min Syarri Fitanillailli Wannahar, Wa Min Syarri Tho-wariqillailli Wannahar Illaa Thoriqon Yatruqu Bikhoirin Yaa Rohman. ( 1 X )
6 – Bismillahi Arqika Wallahu Yasyfika Min Kulli Da-in Yu’dzika Wa Min Kulli Nafsin Au’ainin hasidin, Allahu Yayfika Bismillahi Arqik. ( 3 x )
7 – Allahumma Robban-nasi Adz-hibil ba’sa Isyfi an-tasy-syafi laa syifa-a illa syifa-uku syifa-an Laa yughadiru Saqoma. ( 3 x ).
8 – A’udzu Bikalimatillahit-tammati Kulliha Min Syarri Ma Kholaqa. ( 3 x )
9 – A’udzu Bikalimatillahit-tammati Min Ghodhobihi Wa Iqobihi Wa Min Syarri Ibadihi Wa Min Hamazatisy-Syayathini Wa an Yahdhurun. . ( 1 x )
10 – A’udzu Bikalimatillahit-tammati Min Kulli Syaithon Wa Hammatin Wa Min Kulli A’inin Lammah . ( 3 x )
11 – Robbi a’udzu Bika Min Hamazatisy-Syayathin, Wa a’udzu bika Robbi An Yahdhurun. ( 3 x ).
12 – Membaca Surat Al-faatiha . ( 1 X )
13 – Membaca Surat Al-Baqoroh , Ayat 1 – 5. ( 1 X )
“ Bismillaahir Rohmaanir Rohiim. Aliif Laammiim. Dzaalikal Kitaabu Laa Roiba Fiihi Hudal Lilmuttaqiin Alladziina yu minuuna bil ghoibi wa yuqii Muunash-sholaata Wa Mimmaa Rozaqnaahum Yunfiquun Walladziinaa Yu Minuuna bimaa unzila ilaika wa maa unzila min qobliq Wa bil aakhirotihum yuuqinuun. Ulaa-ika alaa hudam mir robbihim wa ulaa-ika humul muflihuun.”
14 – Membaca Surat Al-Baqoroh , Ayat 102 , ( 3 X atau 7 X )
“Bismillaahir Rohmaanir Rohiim. Wattaba’uu Maa tatlusy Syayaathiinu alaa Mulki Sulaimaana Wa maa Kafaro Sulaimaanu Walaakinnasy Syayaathiina Kafaruu Yu’allimuunan naasa sihro wa maa unzila ala malakaini bi baabila haaruuta wa maaruuta wa maa yu’allimaani min ahadin hattaa yaquulaa innamaa nahnu fitnatun fa laa takfur fa yata’allamuuna Min Hummaa Maa yufarriquuna bihii bainal mar-I wa zaujihii wa maa hum bi dhoorriina bihii min ahadin illaa bi idznillaahi wa yata’allamuuna Wa laqod alimuu la manisy taroohu maa lahuu Fil Akhiroti Min kholaaqiw Wa La Bi’sa Maa Syarau bihii anfusahum Lau Kaanuu Ya’lamuun “
15 – Membaca Surat Al-Baqoroh , Ayat 163 – 164 . 1 X
“Bismillaahir Rohmaanir Rohiim. Wa Ilaahukum Ilaahuw Waahid Laa Illaaha Illaa Huwar Rohmaanur Rohiim. Inna Fii Kholqis samaawaati wal ardhi wakhtilaafil lailli wan Nahaar wal fulkil latii tajrii fil bahrii bi maa yanfa’un naasa wa maa anzalallaahu minas sama-i mim maa in fa ahyaa bihil ardho ba’da mautihaa wa batstsa fiihaa min kulli daabbatin wa tashriifir-riyaahi was sahaabil musakh-khoir bainas-sama-i wal ardhi laa aayaatilli qaumiy ya’ qiluun “
16 – Membaca Surat Al-Baqoroh , Ayat 255 / Ayat Kursi . 1 X
17 – Membaca Surat Al-Baqoroh , Ayat 285 – 286, 1 X
“Bismillaahir Rohmaanir Rohiim. Aamanar rosuulu bi maa unzila ilaihi mir robbihii wal mu’minuuna kullun aamanaa billaahi Wa malaaikatihii wa kutubihii wa rosullihii laa nufarriqu baina ahadim mir Rosulihii wa qooluu sami’naa wa atho’naa ghufraanaka robbanaa wa ilaikal mashiir. Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa lahaa maa kasabat wa’alaihaa mak tasabat Robbanaa laa tu aakhidznaa in nasiinaa au akhto’naa robbanaa wa laa tahmil allaina ishron ka maa hamltahuu allal ladzinaa min qoblinaa robbanaa wa laa tuhammilna maa laa thoqotolanaa bihii wa’fu annaa wagh fir lanaa war hamnaa anta maulaanaa fan shurnaa alal qoumil kaafiriin “
18 – Membaca Surat Ali – Imron , Ayat 18 – 19 , 1 X
“Bismillaahir Rohmaanir Rohiim. Syahidallaahu annahuu laa illaaha illaahuwa wal malaaikatu wa ullul ilmi qooimam bil qisthi laa illaaha illaa huwal aziizul hakim. Innad dinnaa indallaahil islamu wa makhtolafal ladziina uutul kitaaba illaa mim ba’di maa jaa-a humul ilmu baghyam bainahum wa man yakfur bi aayaatillaahi fa innallaaha sarii’ul hisab”.
19 – Membaca Surat Al– A’Raaf , Ayat 54 – 56 , 1 X
“Bismillaahir Rohmaanir Rohiim. Innaa Robbakumullahul ladzi kholaqos-samaawaati wal ardho fii sittati ayyaa min tsumma tawaa alal arsyi yughsyii lailan naaharo yathlubuhuu hatsiitsaw wasy syamsa wal qomaro wan nujuuma musakhkhorootim bi amrihii allaa lahul kholqu wal amru tabaarokallaahu robbul’aalamiin. Ud’uu Robbakum tadhorru’aw wa khufyatan innahuu laa yuhibbul mu’tadiin. Wa laa tufsiduu fil ardhi ba’da ishlaahihaa wad’uuhu khaufaw wa thoma’an inna rohmatillahii Qoriibum minal Muhsiniin “.
20 – Membaca Surat Al– A’Raaf , Ayat 117 – 122 , ( 5 X )
“Bismillaahir Rohmaanir Rohiim. Wa auhainaa illaa Muusaa an alqi ashaaka fa idzaa hiya talqofu maa ya’fikuun Fa waqo’al haqqu wa bathola maa kaanuu ya’maluun.
Fa ghulibuu hunaalika wan qolabuu shooghiriin.
** WA – ULQIYAS SAHAROTU SAAJIDIIN …… 33 X
Qooluu aamannaa bi robbil aalamiin ,Robbii Muusaa wa Haaruu.
21 – Membaca Surat YUUNUS , Ayat 81 – 82 , ( 5 X )
“Bismillaahir Rohmaanir Rohiim. Fa Lammaa alqau qoola Muusaa maa Ji’tum bihis sihr
** INNALLAAHA SA YUBTHILUH…. 33 X , Innallaaha Laa yushlihu’amalal mufsidiin Wa yuhiqqullaahul haqqo bi kalimaatihii wa lau karihal mujrimuun “.
22 – Membaca Surat THAA-HAA , Ayat 69 , ( 7 X )
“Bismillaahir Rohmaanir Rohiim. Wa alqi Maa Fii Yamiinika talqof Maa Shona’uu innamaa shona’uu kaidu saahiriin wa laa yuflihus saahiru haitsu ataa “.
23 – Membaca Surat , AL-Mu’Minuun , Ayat 115 – 118 , ( 1 X )
“Bismillaahir Rohmaanir Rohiim. A Fa Hasibtum annamaa Kholaqnaakum’abatsaw wa annakum ilainaa laa turja’uun. Fa ta’aalallaahu malikul haqqu laa illaaha illaa huwa robbul ‘ arsyil kaariim. Wa may yad’u maa allaahi illaaha aakhor laa burhaana lahuu bihii fa innamaa hisaabuhuu inda robbihii innahu laa yuflihul kaafiruun. Wa Qur Robbigh Fir War Ham Wa Antaa Khoirur Roohimiin “.
23 – Membaca Surat , ASH-Shaaffaat , Ayat 1 – 10 , ( 1 X )
“Bismillaahir Rohmaanir Rohiim. Wash Shooffaati Shoffaa faz zaajirooti zajroo Fat taaliyaati dzikroo Inna Illaahakum lawaahid Robbus samaawaati Wal ardhi wa maa bainahumaa wa robbul masyaariq Innaa Zayyannas samaa-ad dunyaa bi ziinatinil kawaakib Wa hifzhom min kulli syaithoonim maa-rid Laa Yassamma’uuna illaal mala-il aalaa wa yuqdzafuuna min kulli jaanib, Duhuuraw wa lahum adzaabuw waashib. Illaa Man Khothifal khathfata fa at ba’ahuu syihaabun tsaaqib “.
23 – Membaca Surat , AL-Ahqaaf , Ayat 29 – 32 , ( 1 X )
“Bismillaahir Rohmaanir Rohiim. Wa Idz Shorofnaa Ilaika Nafarom Minal Jinni Yastami”uunal Qur-aana Fa lammaa hadhoruuhu qooluu anshituu Fa Lammaa Qudhiya wallaw illaa qoumihim Mundziriin, Qooluu Yaa Qoumanaa Innaa Sami’naa Kitabaan unzila mim ba’di muusaa mushoddiqol lii ma baina yadaihi yahdii illaal haqqi wa illaa thoriiqiim mustaqiim Yaa qoumanaa ajiibuu daa’iyallaahi wa aaminuu bihil yaghfir lakum min dzunuu bikum wa yujirkum min’adzaabin aliim, wa mal laa yujib daa’iyallaahi fa laisa bi mu’jizin fil ardhi wa laisa lahuu min duunihii auliyaa-u ullaa-ika fii dholaalim mubiin “.
24 – Membaca Surat , Ar-Rahmaan , Ayat 33 – 36 , ( 1 X )
“Bismillaahir Rohmaanir Rohiim. Yaa Ma’syarol Jinni Wal insi Inistatho’tum an tanfudzhuu min aqthooris-samaawaati wal ardhi fanfudzuu laa tanfudzuuna illaa bi sulthoon Fa bi ayyi aalaa-I robbikumaa tukadziban Yursalu ‘alaikumaa syuwaazhum minnaaiw wa nuhaasun fa laa tantasshiroon, Fa Bi ayyi aalaa-I robbikumaa tukadziban
25 – Membaca Surat , AL-Hasyr , Ayat 21 – 24 , ( 1 X )
“Bismillaahir Rohmaanir Rohiim.Lau Anzalnaahaadzal Qur-aanaa allaa jabalil la ro’aitahuu khaasyi’am mutashoddi’ammin khasyyatillaahi wa tikal amtsaalu nadhribuhaa lin naasi la’allahum yatafak-karuun,Huwallaahul Ladzii Laa Illaaha illaa Huwa’aalimul ghoibi wasy syahaadati huwar rohmaanur rohim,Huwallaahul Ladzii laa illaaha illaa huwal malikil qudduusus salaamul mu’minul muhaiminul aziizul jabbaarul mutakabbiru Subhaanallaahi ammaa yusyrikuun, Huwallaahu khooliqul baari’ul mushowwiru lahul asmaa-ul husnaa yusabbihu lahuu maa fis samaawaati wal ardhi wa huwal ‘Aziizul Hakiim. “
26 – Membaca Surat , AL-JINN , Ayat 1 – 9 , ( 1 X )
“Bismillaahir Rohmaanir Rohiim.Qul uuhiya ilayya annahus tama’a nafarum minal Jinni Fa qooluu innaa sami’naa qur-aanan’ajaba Yahdii illaar rusydi fa aamannaa bihii walan nusyrika bi robbinaa ahadaa,wa annahuu ta’aalaa jaddu robbinaa mat takhodza shoohibataw wa laa wa ladaa, Wa annahuu kaana yaquulu Safiihunaa’alallahi syathothoo Wa annaa zhonannaa al lan taquulal insu wal jinnu ‘alallaahi kadzibaa, Wa annaahuu kaanaa rijaalum minal insi ya’uudzuuna bi rijaalim minal Jinni Fa Zaaduuhuum Rohaqoo,Wa annahum zhannuu ka maa zhonantum al lay yab’atsallaahu ahaadaa, Wa anna Kunnaa Naq’udu minhaa maqoo’idalissa’I Fa may yastami’il aana yajid lahuu syihaabar roshadaa”.
27 – Membaca Surat , AL-IKHLAS, ( 1 X )
28 – Membaca Surat , AL-FALAQ, ( 1 X )
29 – Membaca Surat , AN – NAAS, ( 1 X )

Dampak Maksiat Terhadap Iman

Kitab Tauhid 2
oleh: Team Ahli Tauhid
Maksiat adalah lawan ketaatan, baik itu dalam bentuk meninggalkan perintah maupun melakukan suatu larangan. Sedangkan iman, sebagaimana telah kita ketahui adalah 70 cabang lebih, yang tertinggi adalah ucapan "la ilaha illallah" dan yang terendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan. 

Jadi cabang-cabang ini tidak bernilai atau berbobot sama, baik yang berupa mengerjakan (kebaikan) maupun me-ninggalkan (larangan). Karena itu maksiat juga berbeda-beda. Dan maksiat berarti keluar dari ketaatan. Jika ia dilakukan karena ingkar atau mendustakan maka ia bisa membatalkan iman. 

Sebagaimana Allah menceritakan tentang Fir'aun dengan firmanNya: "Tetapi Fir'aun mendustakan dan mendurhakai." (An-Nazi'at: 21)

Dan terkadang maksiat itu tidak sampai pada derajat tersebut sehingga tidak membuatnya keluar dari iman, tetapi memperburuk dan mengurangi iman. Maka siapa yang melakukan dosa besar seperti berzina, mencuri, minum-minuman yang memabukkan atau sejenisnya, tetapi tanpa meyakini kehalalannya, maka hilang rasa takut, khusyu' dan cahaya dalam hatinya; sekalipun pokok pembenaran dan iman tetap ada di hatinya. 

Lalu jika ia bertaubat kepada Allah dan mela-kukan amal shalih maka kembalilah khasyyah dan cahaya itu ke dalam hatinya. Apabila ia terus melakukan kemaksiatan maka bertambahlah kotoran dosa itu di dalam hatinya sampai menutupi serta menguncinya -na'udzubillah!-. Maka ia tidak lagi mengenal yang baik dan tidak me-ngingkari kemungkaran. 

Imam Ahmad dan lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: "Sesungguhnya orang mukmin itu jika berbuat dosa maka terbentuklah titik hitam di hatinya. Apabila ia bertaubat, meninggalkan dan beristighfar maka mengkilaplah hatinya. Dan jika menambah (dosa) maka bertambahlah (bintik hitamnya) sampai menutupi hatinya. Itulah 'rain' yang disebut oleh Allah dalam Al-Quran: 'Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.' (Al-Muthaffifin: 14, HR. Ahmad, II/297)

Ada sebuah perumpamaan yang menggambarkan pengaruh maksiat atas iman, yaitu bahwasanya iman itu seperti pohon besar yang rindang. Maka akar-akarnya adalah tashdiq (kepercayaan) dan dengan akar itulah ia hidup, sedangkan cabang-cabangnya adalah amal perbuatan. Dengan cabang itulah kelestarian dan hidupnya terjamin. Se-makin bertambah cabangnya maka semakin bertambah dan sempurna pohon itu, dan jika berkurang maka buruklah pohon itu. 

Lalu jika berkurang terus sampai tidak tersisa cabang maupun batangnya maka hilanglah nama pohon itu. Manakala akar-akar itu tidak mengeluarkan batang-batang dan cabang-cabang yang bisa berdaun maka keringlah akar-akar itu dan hancurlah ia dalam tanah. Begitu pula maksiat-maksiat dalam kaitannya dengan pohon iman, ia selalu membuat pengurangan dan aib dalam kesempurnaan dan keindahannya, sesuai dengan besar dan kecilnya atau banyak dan sedikitnya kemaksiatan tersebut. Wallahu a'lam!

hukum pelaku dosa besar

Kitab Tauhid 2
oleh: Team Ahli Tauhid
Dosa Terbagi Menjadi Dosa Besar Dan Kecil 
1. Dosa Besar (Kabirah) 
Yaitu setiap dosa yang mengharuskan adanya had di dunia atau yang diancam oleh Allah dengan Neraka atau laknat atau murkaiNya. Adapula yang berpendapat, dosa besar adalah setiap maksiat yang dilakukan seseorang dengan terang-terangan (berani) serta meremehkan dosanya. 

Contoh dosa besar adalah sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: "Jauhilah olehmu tujuh dosa yang membinasakan. Mereka bertanya, 'Apa itu?' Beliau menjawab, Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri pada waktu peperangan, menuduh berzina wanita-wanita suci yang mukmin dan lalai dari kemaksiatan." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

2. Dosa Kecil (Shaghirah) 
Yaitu segala dosa yang tidak mempunyai had di dunia, juga tidak terkena ancaman khusus di akhirat. Ada pula yang berpendapat bahwa dosa kecil adalah setiap kemaksiatan yang dilakukan karena alpa atau lalai dan tidak henti-hentinya orang itu menyesali perbuatannya, sehingga rasa kenikmatannya dengan maksiat tersebut terus memudar. 

Contoh dosa kecil adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwasanya Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: "Dicatat atas bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia mendapatkannya tidak mungkin tidak; maka dua mata zinanya adalah memandang, dua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, dua kaki zinanya adalah melangkah, dan hati adalah menginginkan dan mendambakan, hal itu dibenarkan oleh kemaluan atau didusta-kanya." (HR. Muslim, no. 2657)

Dalil pembagian dosa menjadi besar dan kecil adalah firman Allah: "Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (Surga)." (An-Nisa': 31)

"(Yaitu) orang yang mejauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Mahaluas ampunanNya." (An-Najm: 32)

Diriwayatkan dari Umar, Ibnu Abbas dan yang lain bahwasanya mereka berkata: "Tidak ada dosa besar dengan beristighfar dan tidak ada dosa kecil (jika dilakukan) dengan terus-menerus." 

Madzhab Ahlus Sunnah Tentang Pelaku Dosa Besar 
Sesungguhnya orang yang melakukan dosa besar tidaklah menjadi kafir jika dia termasuk ahli tauhid dan ikhlas. Tetapi ia adalah mukmin dengan keimanannya dan fasik dengan dosa besarnya, dan ia berada di bawah kehendak Allah. Apabila berkehendak, Dia mengampuninya dan apabila Ia berkehendak pula, maka Ia menyiksa di Neraka karena dosanya, kemudian Ia mengeluarkannya dan tidak menjadikannya kekal di Neraka. 

Berbeda dengan kelompok-kelompok sesat yang ekstrim dalam hal ini. Mereka adalah: 
1. Murji'ah: Golongan yang menyatakan maksiat tidak membahayakan (berpengaruh buruk) bagi orang beriman, sebagaimana ketaatan tidak bermanfaat bagi orang kafir. 

2. Mu'tazilah: Mereka yang mengatakan bahwa orang yang berdosa besar ini tidak mukmin dan tidak juga kafir, tetapi ia berada pada tingkatan yang ada diantara dua tingkatan tersebut. Namun demikian, apabila ia keluar dari dunia tanpa bertaubat maka ia kekal di Neraka. 

3. Khawarij: Mereka mengatakan bahwa orang yang berdosa besar adalah kafir dan kekal di Neraka. 

Dalil-dalil Ahlus Sunnah 
Ahlus Sunnah berhujjah dengan dalil-dalil yang banyak sekali dari Al-Qur'an dan Al-Hadits, di antaranya: 
1. Firman Allah Subhannahu wa Ta'ala: "Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah me-nyukai orang-orang yang berbuat adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat." (Al-Hujarat: 9-10)

Segi istidlal (pengambilan dalil)-nya: Allah tetap mengakui ke-manan pelaku dosa peperangan dari orang-orang mukmin dan bagi para pembangkang dari sebagian golongan atas sebagian yang lain, dan Dia menjadikan mereka menjadi bersaudara. Dan Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk mendamaikan antara saudara-saudara mereka seiman. 

2. Abu Said Al-Khudri Radhiallaahu anhu mengatakan bahwa Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda: "Allah memasukkan penduduk Surga ke Surga. Dia memasukkan orang-orang yang Ia kehendaki dengan rahmatNya. Dan Ia memasukkan penduduk Neraka. Kemudian berfirman, 'Lihatlah, orang yang engkau dapatkan dalam hatinya iman seberat biji sawi maka keluarkanlah ia.' Maka dikeluarkanlah mereka dari Neraka dalam keadaan hangus terbakar, lalu mereka dilemparkan ke dalam sungai kehidupan atau air hujan, maka mereka tumbuh di situ seperti biji-bijian yang tumbuh di pinggir aliran air. Tidakkah engkau melihat bagaimana ia keluar berwarna kuning melingkar?" (HR. Muslim, I/172 dan Bukhari, IV/158) 

Segi istidlal-nya, adalah tidak kekalnya orang-orang yang berdosa besar di Neraka, bahkan orang yang dalam hatinya terdapat iman yang paling rendah pun akan dikeluarkan dari Neraka, dan iman seperti ini tidak lain hanyalah milik orang-orang yang penuh dengan kemaksiatan dengan melakukan berbagai larangan serta meninggalkan kewajiban-kewajiban.

rukun iman dan cabang-cabang ny

Kitab Tauhid 2
oleh: Team Ahli Tauhid
Rukun-rukun Iman
Yang dimaksud rukun iman adalah sesuatu yang menjadi sendi tegaknya iman. 
Rukun iman ada enam: 
1. Iman kepada Allah 
2. Iman kepada para malaikat 
3. Iman kepada kitab-kitab samawiyah 
4. Iman kepada para rasul 
5. Iman kepada hari Akhir 
6. Iman kepada takdir Allah, yang baik maupun yang buruk. 

Dalilnya adalah jawaban Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam ketika Jibril bertanya padanya tentang iman:
"Engkau beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitab-Nya, para rasulNya, kepada hari akhir Akhir dan engkau ber-iman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk." (HR. Al-Bukhari, I/19,20 dan Muslim , I/37)


Cabang-cabang Iman 
Cabang-cabang iman bermacam-macam, jumlahnya banyak, lebih dari 72 cabang. Dalam hadits lain disebutkan bahwa cabang-cabangnya lebih dari 70 buah. 

Dalil cabang-cabang iman adalah hadits Muslim dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
"Iman itu tujuh puluh cabang lebih atau enam puluh cabang lebih; yang paling utama adalah ucapan "la ilaha illallahu" dan yang paling rendah adalah menyingkirkan rintangan (kotoran) dari tengah jalan, sedangkan rasa malu itu (juga) salah satu cabang dari iman." (HR. Muslim, I/63)


Beliau Shalallaahu alaihi wasalam menjelaskan bahwa cabang yang paling utama adalah tauhid, yang wajib bagi setiap orang, yang mana tidak satu pun cabang iman itu menjadi sah kecuali sesudah sahnya tauhid tersebut. Adapun cabang iman yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu kaum muslimin, di antaranya dengan menyingkirkan duri atau batu dari jalan mereka. 

Lalu, di antara ke dua cabang tersebut terdapat cabang-cabang lain seperti cinta kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, cinta kepada saudara muslim seperti mencintai diri sendiri, jihad dan sebagainya. Beliau tidak menjelaskan cabang-cabang iman secara keseluruhan, maka para ulama berijtihad menetapkannya. 

Al-Hulaimi, pe-ngarang kitab "Al-Minhaj" menghitungnya ada 77 cabang, sedangkan Al-Hafizh Abu Hatim Ibnu Hibban menghitungnya ada 79 cabang iman. Sebagian dari cabang-cabang iman itu ada yang berupa rukun dan ushul, yang dapat menghilangkan iman manakala ia ditinggalkan, seperti mengingkari adanya hari Akhir; dan sebagiannya lagi ada yang bersifat furu', yang apabila meninggalkannya tidak membuat hilang-nya iman, sekalipun tetap menurunkan kadar iman dan membuat fasik, seperti tidak memuliakan tetangga. 

Terkadang pada diri seseorang terdapat cabang-cabang iman dan juga cabang-cabang nifak (kemunafikan). Maka dengan cabang-cabang nifak itu ia berhak mendapatkan siksa, tetapi tidak kekal di Neraka, karena di hatinya masih terdapat cabang-cabang iman. Siapa yang seperti ini kondisinya maka ia tidak bisa disebut sebagai mukmin yang mutlak, yang terkait dengan janji-janji tentang Surga, rahmat di Akhirat dan selamat dari siksa. Sementara orang-orang mukmin yang mutlak juga berbeda-beda dalam tingkatannya. 
Wallahu a'lam!